{"id":860,"date":"2026-05-07T01:54:39","date_gmt":"2026-05-07T01:54:39","guid":{"rendered":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/?p=860"},"modified":"2026-05-07T01:54:39","modified_gmt":"2026-05-07T01:54:39","slug":"resep-kue-putu-tradisional-cara-mudah-membuat-kue-putu-di-rumah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/resep-kue-putu-tradisional-cara-mudah-membuat-kue-putu-di-rumah\/","title":{"rendered":"Resep Kue Putu Tradisional: Cara Mudah Membuat Kue Putu di Rumah!"},"content":{"rendered":"<h1>Resep Kue Putu Tradisional: Cara Mudah Membuat Kue Putu di Rumah!<\/h1>\n<p>Kue Putu, dengan teksturnya yang lembut dan aroma pandan yang khas, adalah salah satu kue tradisional Indonesia yang digemari banyak orang. Bunyi siulan bambu yang khas dari penjaja kue putu selalu mengingatkan kita akan kenikmatan jajan pasar ini. Jika Anda ingin mencoba membuat kue putu sendiri di rumah, artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah. Mari kita mulai petualangan kuliner ini!<\/p>\n<h2>Apa Itu Kue Putu?<\/h2>\n<p>Kue Putu adalah kue tradisional yang biasanya dibuat dari tepung beras yang diberi isian gula merah, kemudian dikukus dalam tabung bambu hingga matang. Tabung bambu inilah yang memberi aroma khas pada kue putu, menjadikannya lebih istimewa dibandingkan kue-kue lainnya. Selain itu, kue ini biasanya disajikan dengan parutan kelapa segar yang menambah cita rasa lezat.<\/p>\n<h2>Sejarah dan Asal-Usul Kue Putu<\/h2>\n<p>Kue putu sebenarnya dikenal di beberapa negara Asia Tenggara, namun di Indonesia, kue ini menjadi bagian dari jajanan tradisional yang kaya akan sejarah dan budaya. Konon, kue ini telah ada sejak zaman penjajahan kolonial, dengan sentuhan lokal yang membuatnya berbeda di setiap daerah.<\/p>\n<h2>Bahan-Bahan yang Dibutuhkan<\/h2>\n<p>Sebelum memulai, pastikan Anda telah menyiapkan semua bahan berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>500 gram tepung beras<\/li>\n<li>200 gram gula merah serut halus<\/li>\n<li>1\/2 sendok teh garam<\/li>\n<li>200 ml air daun pandan (bisa dibuat dari 10 lembar daun pandan yang diblender dengan air)<\/li>\n<li>200 gram kelapa parut kasar, kukus dan tambahkan sedikit garam<\/li>\n<li>Tabung bambu dengan diameter sesuai selera<\/li>\n<li>Daun pisang untuk alas<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Alat yang Dibutuhkan<\/h2>\n<ul>\n<li>Kukusan<\/li>\n<li>Mangkuk besar<\/li>\n<li>Sendok<\/li>\n<li>Parutan<\/li>\n<li>Pisau<\/li>\n<li>pencampur<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Cara Membuat Kue Putu Tradisional<\/h2>\n<h3>Langkah 1: Siapkan Bahan<\/h3>\n<ol>\n<li>\n<p><strong>Tepung Beras:<\/strong> Sangrai tepung beras dalam wajan dengan api kecil selama sekitar 5-10 menit hingga ringan. Jangan sampai gosong.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p><strong>Air Pandan:<\/strong> Blender daun pandan dengan air hingga halus, lalu saring untuk mendapatkan air pandan.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<h3>Langkah 2: Membuat Adonan<\/h3>\n<ol>\n<li>\n<p><strong>Campur Tepung dan Air Pandan:<\/strong> Dalam mangkuk besar, campur tepung beras sambil menambahkan air pandan perlahan. Aduk hingga teksturnya menjadi seperti pasir basah.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p><strong>Tambahkan Garam:<\/strong> Masukkan garam ke dalam adonan dan pastikan semua tercampur merata.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<h3>Langkah 3: Isi dan Bentuk<\/h3>\n<ol>\n<li>\n<p><strong>Isi Bambu:<\/strong> Ambil tabung bambu, beri beberapa sendok adonan tepung, tambahkan gula merah serut di tengahnya, kemudian tutup kembali dengan adonan tepung.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p><strong>Kompres Adonan:<\/strong> Tekan perlahan agar adonan padat namun tidak terlalu rapat agar kue dapat mengembang dengan baik.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<h3>Langkah 4: Mengukus<\/h3>\n<ol>\n<li>\n<p><strong>Kukus Kue Putu:<\/strong> Letakkan tabung bambu dalam kukusan yang telah dipanaskan, kukus selama 10-15 menit hingga matang.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p><strong>Periksa Kematangan:<\/strong> Angkat jika aroma kue sudah tercium harum dan teksturnya terasa ringan saat disentuh.<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<h3>Langkah 5: Penyajian<\/h3>\n<ol>\n<li>\n<p><strong>Kelapa parut:<\/strong> Sajikan kue putu selagi hangat dengan taburan kelapa parut di atasnya.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p><strong>Nikmati Kue Putu:<\/strong> Kue putu siap dinikmati bersama teh hangat atau kopi!<\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<h2>Tips dan Trik untuk Kue Putu yang Sempurna<\/h2>\n<ul>\n<li>\n<p><strong>Pilih Bambu Berkualitas:<\/strong> Untuk mendapatkan aroma khas, pastikan bambu yang digunakan berkualitas baik.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p><strong>Konsistensi Adonan:<\/strong> Jangan terlalu basah atau kering; konsistensi adonan yang tepat penting agar kue putu tidak pecah saat dimasak.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p><strong>Kegunaan Air Pandan:<\/strong> Jika tidak ada daun pandan segar, gunakan esens pandan sebagai alternatif meski aroma dan rasa mungkin sedikit berbeda.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Nutrisi dalam Seporsi Kue Putu<\/h2>\n<p>Kue putu bukan hanya lezat tapi juga menawarkan beberapa manfaat gizi dari bahan-bahan alaminya,<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Resep Kue Putu Tradisional: Cara Mudah Membuat Kue Putu di Rumah! Kue Putu, dengan teksturnya yang lembut dan aroma pandan yang khas, adalah salah satu kue tradisional Indonesia yang digemari banyak orang. Bunyi siulan bambu yang khas dari penjaja kue putu selalu mengingatkan kita akan kenikmatan jajan pasar ini. Jika Anda ingin mencoba membuat kue [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":862,"comment_status":"closed","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[429],"class_list":["post-860","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-resep-kue-putu"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/860","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=860"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/860\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":863,"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/860\/revisions\/863"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/862"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=860"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=860"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/nelongsoketintang.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=860"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}